Malangnya Nasib Paus Ini, Ditemukan Mati dengan 40 Kg Sampah di Perutnya

Malangnya Nasib Paus Ini, Ditemukan Mati dengan 40 Kg Sampah di Perutnya

Yuk, mulai kurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Dampak sampah plastik di laut sangat berbahaya bagi kehidupan ekosistem. Seekor paus kelaparan ditemukan tewas dengan 40 kg sampah plastik di perutnya setelah hanyut ke daratan Filipina. Para aktivis, Senin (18 Maret), menyebutnya sebagai salah satu kasus keracunan terburuk yang pernah mereka lihat.

Komunitas pecinta lingkungan telah menandai Filipina sebagai salah satu pencemar laut terbesar di dunia karena ketergantungannya pada plastik sekali pakai. Pencemaran semacam itu, yang juga tersebar luas di negara-negara Asia Tenggara lainnya, secara teratur membunuh satwa liar seperti ikan paus dan kura-kura yang menelan limbah tersebut.

Dalam kasus terakhir, kata biro perikanan regional pemerintah, seekor paus paruh Cuvier tewas pada Sabtu (16 Maret) di provinsi selatan Compostela Valley di mana ia terdampar sehari sebelumnya.

Agensi dan kelompok lingkungan melakukan necropsy pada hewan dan menemukan sekitar 40kg plastik, termasuk kantong belanjaan dan karung beras.

Dampak sampah plastik di laut, paus mati dengan 40 kg plastik di perutnya

dampak sampah plastik di laut

Facebook

Hewan itu mati kelaparan dan tidak dapat makan karena penuh sampah di perutnya, kata Darrell Blatchley, direktur D ‘Bone Collector Museum Inc, yang membantu melakukan pemeriksaan.

“Kejadian ini sangat menjijikkan dan memilukan,” katanya kepada Agence France-Presse (AFP). “Kami telah melakukan necropsi pada 61 lumba-lumba dan paus dalam 10 tahun terakhir dan kasus ini adalah kasus dengan (jumlah plastik) terbesar yang pernah kami lihat.”

Pekerja mengumpulkan barang-barang plastik dan sampah, termasuk karung dengan lebih dari 1.000 keping tali, dari perut paus yang ditemukan mati di taman nasional Indonesia.

Dampak sampah plastik di laut ini mengakibatkan paus sepanjang 4,7 m itu terdampar di kota Mabini pada hari Jumat di mana pejabat setempat dan nelayan mencoba melepaskannya, hanya agar makhluk itu kembali ke perairan dangkal, kata Biro Perikanan dan Sumberdaya Perairan.

“Ia tidak bisa berenang sendiri, kurus dan lemah,” kata direktur biro regional Fatma Idris kepada AFP.

“Hewan itu mengalami dehidrasi. Pada hari kedua ia kesakitan dan memuntahkan darah.”

Kematian itu terjadi hanya beberapa minggu setelah Aliansi Global untuk Incinerator Alternatives merilis laporan tentang jumlah plastik sekali pakai yang mengejutkan di Filipina, termasuk hampir 60 miliar sachet setahun.

Filipina memiliki undang-undang yang ketat tentang pembuangan sampah, tetapi ahli lingkungan mengatakan ini tidak dilaksanakan dengan baik.

Masalahnya juga menjangkiti tetangga Filipina yang berada di kawasan Asia Tenggara. Seekor paus mati di Indonesia tahun lalu dengan hampir 6 kg sampah plastik ditemukan di perutnya. Di Thailand, seekor paus juga mati tahun lalu setelah menelan lebih dari 80 kantong plastik. Penyu hijau, spesies yang dilindungi, mengalami nasib yang sama di sana pada tahun 2018.

Sumber: Asia One
Ilustrasi: Pixabay

Baca juga:

Video Kucing Takut Mentimun Viral, Ternyata Ini Alasannya!

Suka dengan artikel ini? Like Facebook dan Instagram Nonilo Indonesia agar tidak ketinggalan artikel-artikel terbaik kami!

Penulis

Kiki Pea